Subscribe:

25 Mei 2011

Intel Menyesal Duet dengan Nokia

Jakarta - Nokia dan Intel pernah berduet mesra saat mengembangkan sistem operasi MeeGo. Namun semuanya berubah kala Nokia memilih menggandeng OS Windows Phone 7 (WP7).

MeeGo terkesan dicampakkan karena WP7 akan jadi sistem operasi utama smartphone Nokia. Kerja sama dengan Intel agak berantakan, di mana perangkat berbasis MeeGo kian diabaikan Nokia. Intel pun menyesal telah berduet dengan Nokia.

Intel menyalahkan goyahnya kemitraan dengan Nokia sebagai penyebab tertundanya pembuatan prosesor Intel untuk smartphone. CEO Intel, Paul Otellini menilai seharusnya dahulu Intel memilih partner selain Nokia.

"Nokia adalah partner yang keliru untuk dipilih," tukas Otellini, seperti dilansir TechRadar dan dikutip detikINET, Rabu (18/5/2011).

Intel sendiri berjanji akan merilis prosesor khusus untuk smartphone. Smartphone dengan prosesor Intel ini direncanakan akan meluncur awal tahun depan.

Untuk pengembangan sistem operasi MeeGo sendiri, Intel berupaya mencari partner selain Nokia. Belum lama ini, mereka berhasil menggaet LG Electronics untuk membuat perangkat berbasis MeeGo


( fyk / rns )
sumber : http://www.detikinet.com

24 Mei 2011

Kisah Dua Tukang Sol

Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.

Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.

Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.

“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.

“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.

“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.

“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”

“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.

“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.

“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.

“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.

Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.

“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”

Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.

Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,

“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”

Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,

“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”

“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.

“Abang yakin?”

“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.

“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.

“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.

Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.

“Apa kabar mang Udin?”

“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.

Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,

“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”

“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.

“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.

Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,

“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”

“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.

Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.

“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.

Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.

“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.

“Tidak.”

“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”

Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.

“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”

Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.


Sumber : http://www.motivasi-islami.com

23 Mei 2011

Berawal dari sebuah sapaan, ingat kan? senyum,salam, sapa

“Ga usah” jawaban bersahabat dari seorang kenek bis kota kampus itu terus terang menghadirkan tanda tanya dalam hatiku “kenapa dia tidak mau menerima ongkos itu ?”. Turun di terminal, sobatku yang talkactive itu memulai aksi yang baru, menghampiri gerobak pedagang air tebu.

Bapak itu buru-buru menyodorkan segelas air tebu es kepadanya, padahal dia belum meminta. Rupanya si bapak sudah melihat kedatangannya dari jauh. Bukan hari ini saja, seakan-akan setiap hari selalu ada orang baik untuknya.

Kemaren, ketika dia asyik berceloteh dengan teman-teman sewaktu jam istirahat, seorang ibu yang biasa mengusung dagangannya dari blok ke blok kelas kuliah memanggilnya. Dengan gembira dia kembali, “nih satu buat kamu” sambil membawa dua bungkus tahu isi, “dikasih si Ibu” lanjutnya sambil tersenyum kepada si Ibu yang juga tersenyum dengan bahagia.

Belum lagi, minggu yang lalu dia sukses memindahkan sepiring sate dosen ke tangannya. Aku berusaha sekuat tenaga menyibak kekuatan yang dimilikinya. Sobatku itu seorang yang sederhana, tidak kaya, tidak cantik, tidak terlalu berprestasi. Hanya satu kelebihannya yang tidak dimiliki orang lain. Ya.. aku mulai menyadari. Kelebihan itu juga tidak ada padaku.

Dia sangat hobby menyapa orang lain yang berlanjut dengan obrolan. Anehnya, dia tidak pernah kehabisan bahan. Dari terminal sampai kampus, sang kenek seakan mendapat tambahan semangat ketika dia ajak ngobrol. Begitu juga wajah pedagang tebu ketika dia bertanya tentang keadaan isteri dan anak-anaknya. Aha ! aku juga baru tahu kenapa si ibu rela memberikan tahu cuma-cuma untuknya.

Karena sifatnya yang ramah, dia tidak saja punya teman sesama fakultas, tapi juga dari fakultas lainnya. Merekalah yang “dipaksa”nya untuk membeli dagangan si ibu.

Masih dengan rasa penasaran, kucoba bertanya kepada kenek bis yang selalu memberi gratisan kepadanya “ga rugi tuh ?”. Sungguh terperanjat aku mendengar jawaban knek itu “Wah, ga sebanding mba dengan jajan yang selalu diberinya untukku”.

Aku tidak mencoba bertanya lebih jauh kepada pedagang air tebu, karena aku sudah menemukan jawabannya. Seperti kata seorang guru “Orang mendapatkan bukan dari apa yang dimintanya tapi dari apa yang diberikannya.” Yah, sobatku melakukannya dengan tulus dan suka cita. Keramahtamahan dan kemuliaan budinya langsung dibalas Allah lewat kasih sayang hamba-hamba-Nya yang lain. Semuanya berawal dari sebuah sapaan.

Anas Wong


Sumber : http://www.kisahinspiratif.com

22 Mei 2011

Pelajaran Hidup di Stasiun Jatinegara

Ketika pulang tugas audit dari surabaya Kereta Argo angrek yang saya tumpangi dari Stasiun Pasar turi surabaya perlahan-lahan memasuki stasiun Jatinegara. Para penumpang yang akan turun di Jatinegara saya lihat sudah bersiap-siap di depan pintu, karena sudah di jemput oleh keluarga. suasana jatinegara penuh sesak seperti biasa.

Sementara itu, dari jendela, saya lihat beberapa orang porter/buruh angkut berlomba lebih dulu masuk ke kereta yang masih melaju. Mereka berpacu dengan kereta, persis dengan kehidupan mereka yang terus berpacu dengan tekanan kehidupan kota Jakarta. Saat kereta benar-benar berhenti, kesibukan penumpang yang turun dan porter yang berebut menawarkan jasa kian kental terasa. Sementara di luar kereta saya lihat kesibukan kaum urban yang akan menggunakan kereta. Mereka kebanyakan berdiri,karena fasilitas tempat duduk kurang memadai. Sebuah lagu lama PT. KAI yang selalu dan selalu diputar dengan setia.

Tiba-tiba terdengar suara anak kecil membuyarkan keasyikan saya mengamati perilaku orang-orang di Jatinegara. Saya lihat seorang bocah berumur sekitar 10 tahun berdiri disamping saya. Kondisi fisiknya menggambarkan tekanan kehidupan yang berat baginya.

Kulitnya hitam dekil dengan baju kumal dan robek-robek disana-sini. Tubuhnya kurus kering tanda kurang gizi. “Ya?” Tanya saya kepada anak itu karena saya tadi konsentrasi saya melihat orang-orang di luar kereta. “Maaf, apakah air minum itu sudah tidak bapak butuhkan ?” katanya dengan penuh sopan sambil jarinya menunjuk air minum di atas tempat makanan dan minum samping jendela. Pandangan saya segera mengikuti arah telunjuk si bocah. Oh, air minum dalam kemasan gelas dari katering kereta yang tidak saya minum. Saya bahkan sudah tidak peduli sama sekali dengan air itu. Semalam saya hanya minta air minum dalam kemasan gelas untuk jaga-jaga dan menolak nasi yang diberikan oleh pramugara. Perut saya sudah cukup terisi dengan makan di rumah.

“Tidak. Mau ? Nih…” kata saya sambil memberikan air minum kemasan gelas kepada bocah itu. Diterimanya air itu dengan senyum simpul. Senyum yang tulus.

Beberapa menit kemudian, saya lihat dari balik jendela kereta, bocah tadi berjalan beririringan dengan 3 orang temannya. Masing-masing membawa tas kresek di tangannya. Ke empat anak itu kemudian duduk melingkar dilantai emplasemen. Mereka duduk begitu saja. Mereka tidak repot-repot membersihkan lantai yang terlihat kotor. Masing- masing kemudian mengeluarkan isi tas kresek masing-masing.

Setelah saya perhatikan, rupanya isinya adalah “harta karun” yang mereka temukan di atas kereta. Saya lihat ada roti yang tinggal separoh, jeruk medan, juga separuh; sisa nasi catering kereta, dan air minum dalam kemasan gelas !

Selanjutnya dengan rukun mereka saling berbagi “harta karun” temuan mereka dari kereta. Saya lihat bocah paling besar menciumi nasi bekas catering kereta untuk memastikan apakah sudah basi atau belum. Tanpa menyentuh sisa makanan, kotak nasi itu kemudian disodorkan pada temannya. Oleh temannya, nasi sisa tersebut juga dibaui. Kemudian, dia tertawa dengan penuh gembira sambil mengangkat tinggi-tinggi sepotong paha ayam goreng. Saya lihat, paha ayam goreng itu sudah tidak utuh. Nampak jelas bekas gigitan seseorang.

Tapi si bocah tidak peduli, dengan lahap paha ayam itu dimakannya. Demikian juga makanan sisa lainnya. Mereka makan dengan penuh lahap. Sungguh, sebuah “pesta” yang luar biasa. Pesta kemudian diakhiri dengan berbagi air minum dalam kemasan gelas !

Menyaksikan itu semua, saya jadi tertegun. Saya lihat sendiri persis di depan mata, potret anak-anak kurang beruntung yang mencoba bertahan dari kerasnya kehidupan. Nampaknya hidup mereka adalah apa yang mereka peroleh hari itu. Hidup adalah hari ini. Esok adalah mimpi dan misteri.

Cita-cita ?
Masa Depan ? Lebih absurd lagi.

Bagi saya pribadi, pelajaran berharga yang saya petik adalah, bahwa saya harus makin pandai bersyukur atas segala rejeki dan nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Dan tidak lagi memandang sepele hal yang nampak sepele, seperti misalnya: air minum kemasan gelas. Karena bisa jadi sesuatu yang bagi kita sepele, bagi orang lain sangat berarti.

Gani

Sumber : http://www.kisahinspiratif.com

1 Apr 2011

Curahan Hati

Haaaahhhhhhhh....
Maaf rekan2 pembaca blog ini. Saya numpang lewat buat curhat. Karena agak2 ndesani ga bisa bikin blog sendiri, hehehe... :P Aku seorang karyawati outsourcing di sebuah BUMN. Setelah nganggur karena da momongan dan putus asa ga dapat kerja akhirnya dapatlah panggilan di BUMN ini. ^_^ Awal kerja setelah sekian lama nganggur dan terisolasi karena punya momongan n terisolasi ternyata benar2 menguras perasaan. Sekarang si sudah mulai menikmati suasananya dan memahami. Ini curhat tentang bisik - bisik tetangga, karena saya tau kalo curhat tentang saya pasti g menarik :). Kemarin, ada salah sorang vendor perusahaan ini ( kebetulan memang kerjaanku berhubungan dengan mereka) yang sepertinya memang seneng banget bisik2 ke tetangga kanan kiri. Mengenai salah seorang pegawai yang 'nakal' yang kebetulan sudah g aktif lagi sekarang. Saya tau dan pasti semua orang juga menyadari bahwa semua perusahaan selalu ada saja orang yang memanfaatkan sesuatu untuk berbuat yang menyenangkan hanya dirinya sendiri, begitupun beliau.

Aku juga sebenarnya udah merasa selama bekerja sama dengan beliau, tapi rasanya agak kaget juga begitu ada orang yang membisikan sesuatu yang sepertinya membenarkan prasangkaku.
Apa karena ga dapet bagian ya?????????? (ngarep.com :P). Jadi, orang tersebut membisikkan kalo selama belau ada, selalu (katanya sih selalu) mengajak salah seorang karyawati juga dan adm rekanku yang juga uotsource jalan2 k mall ( diruangan seluas karang / lebih 400m2 hanya ada 10 pegawai outsource dan 14 pegawai tetap). Begitu tiba dsana, mereka langsung diberi bugjet yang rekannya satu juta dan yang teman saya 500rb (Wueenak tenan! Meskipun dalam bentuk barang, uang segitu dapetnya pa aja, coba?????) kalo gitu????Mauuuuuuuuuuuuu :)) G muna, ah! Beliau yang, bayar. Hah!!!

Yah....., dari manapun asal duit yang buat dia bayarin si mungkin bukan urusan kita y. Mungkin aja, beliau memang mampu buat bayarin orang2 itu. Secara, dia kan kepala bagian. Dan lagi, jaman gini ada yang mau beliin kita macam2 dengan bugjet segitu si sapa yang nolak coba. Namanya juga dikasih ini. Sekarang si sudah ganti orang lagi, wanita pula. Kebetulan beliau pindahnya bertepatan dengan aku masuk baru dsini. Tapi ternyata sistemnya masi sama. Intinya Pria pa wanita yang menduduki jabatan ini, kalo semua berhubungan dengan DUIT pasti g bakalan buka mata deh ma sekelilingnya. Meskipun di satu ruangan ada 10 orang, kalo beliau "jalan-jalan" dengan alasan dinas (bersama teman saya juga, nih) tetep tutup mata. Makan2 sendiri, jajan2 sendiri. Meskipun nyang disebelahnya persis nih ^-^' tetep aja tutup mata. Bukannya aku iri, gak kok. SERIUS!!! tapi, rasanya bekerja persis disebelah orang yang nggak anggap kita tuh bener2 menyakitkan hati. Begitu cerita kemisua tetep jawabannya klise "sabar...sabar, ntar ada yang bales?" Lah!! Kalah, deh. Iya, deh. Meski makan hati tetep sabar kan? Haaaahhh...*hela napas aja*

Kerjasama yang lumayan menyakitkan. Ketika kita hanya dapet ampas sementara santan-nya sudah ga ada. Yah, yang namanya manusia. Berbuat adil itu bukan perkara yang mudah. Aku kepengenya si, dianggap sama. Yo wis ga sama g apa2, tapi tau kalo aku juga punya perasaan sedih kali di acuhin. Tapi piye lagi. Udah kerjaanku cuma seiprit (habis cuma di awal ma akhir bulan aja si), trus kalo ga ada kerjaan yang dilakukan seharian hanya buka2 internet ya yang browsing, ya yang nonton youtube, buka facebook (paling jarang, nih) dan sekarang lagi seneng2-nya nonton drama korea online, lagian g bisa buat download nih. Coba bisa. Gimana lagi, gratis sih. Mana loadingnya ga putus2 kaya dirumah hehehe :). Dan kata ibu yang satu ini, jagain warung kalo ada tagihan yang datang (tapi tetep g dapat santannya lho), begitu ibu-nya dateng dapat oleh2 cerita tok dan akunya ketawa2 tok (kalo dbutuhin buat ketawa, kan ibadah).
Lah, lama2 g nyambung nih. Dari yang bisik-bisik tetangga, entah sampai mana. G apa, deh. Ini memang cuma curhat yang ga jelas dari orang yang bingung ( ga tau protes, kepengen juga pa sebenernya mang iri karena g ikut kecipratan?) .
Tau, deh. Rekan2 aja yang putuskan. Tapi akunya si dah lega bisa sedikit ngeluarin isi hati. Terimakasih untuk yang sudi membacanya. Apapun koment baik yang g ditulis maupun ditulis saya haturkan so much terimakasih.




12 Mar 2011

Download Youtube Lebih Mudah Sekarang ..!

Kenapa saya kasih judul seperti itu .... Ya sekarang untuk download youtube lebih mudah. Ini saya share ke sobat blogger yang menggunakan Mozilla Firefox. Awalnya saat itu saya mau mendownload video dari youtube, waktu itu saya sempat juga tanya-tanya sama mbah google dan mbah googel banyak kasih tau pakai youtube downloader, dari situ saya mulai searching youtube downloder tersebut. Tapi banyak yang kurang sreg waktu saya instal dan pakai. Dari situ saya iseng-iseng buka add ons nya mozilla. Ternyata ada menu add ons untuk mendownload video youtube.Untuk sobat blogger yang masih binggung bisa cari lewat menu bar trus cari Tools (seperti gambar di bawah).